Showing posts with label jabal. Show all posts
Showing posts with label jabal. Show all posts

Friday, May 27, 2011

JABAL (gunung) RAHMAH : tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa



Untuk mencapai puncak tempat ini, kita bisa menempuhnya sekitar 15 menit dari dasar bukit. Agar lebih mudah pemerintah setempat telah membangun infrastruktur yang memadai sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menikmatinya. Infrastruktur ini berupa jalanan berbentuk tangga dengan 168 undakan menuju puncak tugu.Bukit batu ini berada pada ketinggian kurang lebih enam puluh lima meter yang puncaknya menjulang. Di bukit ini terdapat sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1, 8 meter dan tingginya 8 meter.

Dari bukit ini bisa dilihat pemandangan padang Arafah yang setiap tahunnya dipadati oleh jamaah dari penjuru dunia ketika musim haji tiba. Di sini kita juga dapat menyaksikan matahari yang terbit atau sinar jingga yang mengiringi saat menjelang terbenamnya matahari.

Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW tatkala melakukan wukuf. Wahyu tersebut termuat dalam QS Al-Maidah (5:3). Turunnya ayat ini membuat para sahabat bersedih, sebab mereka merasa akan kehilangan Rasulullah dan tak berapa lama kemudian, Rasulullah dipanggil menghadap oleh Allah SWT.

Peristiwa pertemuan nabi Adam AS dan Siti Hawa ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran, surah Al-Baqarah ayat 35 dan 38 serta Al-A’raf ayat 19-25 dan surah Thoha ayat 123. ”Dan kami berfirman, ”Wahai Adam ! Tinggallah Engkau dan istrimu didalam surga, dan makanlah dengan niikmat (berbagai makanan) yang ada disana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon itu (khuldi, red), nanti kamu akan termasuk orang-orang yang zalim.” (QS 2:35) ”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan. (QS 2: 36). ”Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS 2:38).

Dalam surah Al-A’raf, diusirnya Adam dan Hawa dari surga ini diabadikan pada ayat 24-25. ”Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan. Disana kamu hidup, disana kamu mati dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS 7:24-25).

Adam dan Hawa diusir dari surga karena melanggar larangan Allah, yakni memakan buah khuldi, akibat bujuk rayu Iblis. Iblis berkata kepada Adam dan Hawa : ”Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (yakni pohon keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?. Lalu keduanya memakannya, hingga tampaklah aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.” (QS Thaha (20) : 120-121)

Akibat melanggar larangan tersebut, Adam AS dianggap durhaka kepada Allah SWT dan tersesat, karena mengikuti bisikan Iblis. Menurut sebagian ulama, kesalahan Adam AS ini, meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa, sudah dinamakan durhaka dan sesat, karena tingginya martabat dan kedudukan Adam AS sebagai seorang Nabi yang harus menjadi teladan bagi yang lain.

Adam AS awalnya menolak mengikuti bujukan Iblis. Namun, desakan Siti Hawa yang begitu kuat, akhirnya membuat Adam ikut memakan buah tersebut. Akibatnya, setelah memakan buah tersebut, terlepaslah pakaian mereka sehingga nampak auratnya. Demikian diterangkan dalam An Nihayah fi Gharib Al-Hadits, karya Abu Sa’adaat Ibnul Atsir jilid 3 hlm 158).

Menurut beberapa keterangan, selain Iblis, Adam dan Hawa, yang turut pula diusir dari surga adalah seekor ular. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari RA dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ke-36 QS Al-Baqarah, membawakan sebuah riwayat dengan sanadnya bersambang kepada para sahabat Nabi SAW seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan lainnya menerangkan : ”Ketika Allah memerintahkan kepada Adam dan Hawa untuk tinggal di surga dan melarang keduanya memakn buah khuldi, Iblis memiliki kesempatan untuk menggoda Adam dan Hawa. Namun, ketika akan masuk ke surga, Iblis dihalangi oleh malaikat. Namun, dengan tipu muslihatnya, Iblis kemudian mendatangi seekor ular, yang waktu itu ia adalah hewan yang mempunyai empat kaki seperti onta, dan ia adalah hewan yang paling bagus bentuknya. Setelah berbasa-basi, Iblis lalu masuk ke mulut ular dan ular itupun masuk ke surga sehingga Iblis lolos dari pengawasan malaikat.” Karena itulah, mereka semua akhirnya diusir dari surga.

Lalu setelah diusir dari surga, dimanakah Adam dan Hawa diturunkan, dan dimanakah bertemunya? Belum ada keterangan yang paling shahih tentang itu. Namun, sebagian ulama sepakat, bahwa keduanya diturunkan secara terpisah dan kemudian bertemu di Jabal Rahmah, di Arafah.

Menurut Al-Imam At-Thabari dalam Tarikhnya (jilid 1 hlm 121-126), bahwa Mujahid meriwayatkan keterangan Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutthalib yang mengatakan : ”Adam diturunkan dari surga ke bumi di negeri India.” Abu Shaleh meriwayatkan juga dari Ibnu Abbas yang menerangkan bahwa Hawa diturunkan di Jeddah (Arab : Nenek perempuan) yang merupakan bagian dari Makkah. Kemudian dalam riwayat lain At-Thabari meriwayatkan lagi bahwa iblis diturunkan di negeri Maisan, yaitu negeri yang terletak antara Basrah dengan Wasith. Sedangkan ular diturunkan di negeri Asbahan (Iran).

Riwayat lain menyebutkan, Adam diturunkan di bukit Shafa dan Siti Hawa di bukit Marwah. Sedangkan riwayat lain menyebutkan Adam AS diturunkan di antara Makkah dan Thaif. Ada pula yang berpendapat Adam di turunkan di daerah India, sementara Hawa diturunkan di Irak.

Al-quran sendiri tidak menerangkan secara jelas dimana Adam dan Hawa diturunkan. Alquran hanya menjelaskan tentang proses diturunkanya Adam dan Hawa ke bumi. Lihat Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.

Sementara itu, menurut legenda dalam agama Kristen, setelah diusir dari Taman Eden (surga), Adam pertama kali menjejakkan kakinya di muka bumi di sebuah gunung yang dikenal sebagai Puncak Adam atau Al-Rohun yang kini terdapat di Sri Lanka.

Bila sebagian ulama berselisih pendapat mengenai tempat diturunkannya Adam dan Hawa, namun mereka bersepakat kalau keduanya kemudian bertemu di Jabal Rahmah, setelah terpisah selama ratusan tahun.

Keyakinan bahwa bertemunya Adam dan Hawa di Jabal Rahmah di Arafah itu kemudian dikukuhkan dengan dibangunnya sebuah tugu oleh pemerintah Arab Saudi di tempat tersebut.

Al Imam Al Auza’ie meriwayatkan dari Hasan bin Athiyyah bahwa Adam dan Hawwa’ menangis ketika turun di bumi selama 60 tahun karena menyesali berbagai kenikmatan di surga yang tidak didapati lagi oleh keduanya di bumi ini. Keduanya juga menagis karena menyesali dosa yang dilakukan oleh keduanya. Demikian Ibnu Katsir meriwayatkannya dalam Kitab Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, jilid 1 hlm 74. Wa Allahu A’lamu.

Thursday, May 26, 2011

Jabal (gunung) Uhud, Perang dan Syuhada

Gunung Uhud merupakan sekelompok gunung yang terletak sekitar 6 kilometer di sebelah utara Masjid Nabawi panjangnya sekitar 5 mil. Gunung ini tidak bersambung dengan gunung-gunung lain, seperti halnya umumnya gunung-gunung di sekitar kota suci itu. Karena itu, disebut Uhud, yang artinya menyendiri. Gunung batu yang terdiri dari granit, marmer merah, dan batu-batu mulia (sehingga dari jauh kelihatan agak memerah) ini merupakan lokasi salah satu perang yang diikuti Nabi Muhammad Saw. dan diuraikan cukup terinci di dalam Al-Quran.


Gunung Uhud


Perang ini dipicu oleh kekalahan telak kaum musyrik Quraisy dalam Perang Badar yang terjadi pada Selasa, 17 Ramadhan 2 H/13 Maret 623 M. Karena itu, mereka bertekad untuk melancarkan pembalasan. Mereka pun menyiapkan perbekalan yang cukup dan pasukan dengan senjata yang lengkap yang berjumlah tidak kurang ari 3.000 orang, di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb. Pasukan ini mendapat bantuan dari beberapa kabilah Arab lain, seperti Arab Kinanah dan Tihamah.

Pada pertengahan Sya‘ban 3 H/Februari 625 M, pasukan kaum musyrik Quraisy tersebut berangkat menuju Madinah. Semula kaum Muslim tidak mengetahui persiapan pasukan itu. Nabi Muhammad Saw. sendiri baru memeroleh berita, hanya dua atau tiga hari sebelum pasukan musuh tiba di Uhud, dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, pamanda beliau yang kala itu telah memeluk Islam namun masih menetap di Makkah. Setelah beliau mendengar gerakan pasukan tersebut, beliau pun keluar kota disertai pasukan dengan kekuatan 1.000 orang untuk menyongsong pasukan musuh. Tetapi baru saja beliau berangkat, sekelompok kaum munafik yang dipimpin ‘Abdullah bin Ubai yang jumlahnya hampir sepertiga pasukan itu membelot. Meski demikian, pasukan yang tetap setia kepada beliau terus berangkat bersama beliau.

Di kaki Gunung Uhud yang terletak di sebelah timur laut Kota Nabi itu, bertemulah kedua pasukan yang bermusuhan itu pada Sabtu, 15 Syawwal 3 H yang bertepatan dengan 30 Maret 625 M. Pihak Makkah mula-mula mengalami kekalahan besar, meski jumlah tentara dan persenjataan mereka yang jauh lebih besar. Namun, pasukan panah kaum Muslim, yang oleh Nabi Saw. disiagakan di atas Bukit Uhud untuk melindungi sayap pasukannya, melanggar perintah Rasulullah saw. Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk tetap berada di Bukit Uhud. Ketika pasukan kaum Quraisy kalah dan tercerai-berai meninggalkan ganimah (rampasan perang). Para pemanah yang berada di Bukit Uhud tergerak untuk turun karena khawatir tidak segera mendapat bagian ganimah. Dari 50 pemanah (sniper) yang ditugasi Rasulullah saw untuk berjaga di bukit Uhud, hanya 10 pemanah yang tidak turun. Sebanyak 40 pemanah turun karena terprovokasi untuk mengambil harta ganimah.


Bukit Uhud (dulu tidak sependek ini kali yaa)


Melihat pemanah dari Bukit Uhud turun, panglima Quraisy yaitu Khalid bin Walid segera berputar dan menyerang kembali kaum Mukminin. Pada penyerangan itu, Khalid bin Walid memporak-porandakan kaum Mukminin yang hendak mengumpulkan ghanimah. Bahkan Rasulullah saw sendiri mendapat serangan yang hebat dan giginya terkena panah. Abdullah bin Zubair R.A. syahid karena membela Nabi saw. sedangkan sebagian besar pasukan lari dari peperangan; lari dari Nabi saw. Nabi saw berseru kepada pasukannya, "Aina ayuhannas! Ke mana kalian? Mengapa kalian lari?" Hanya sedikit dari sahabat yang bertahan dari serangan Khalid bin Walid dan tetap berada dalam pasukan Nabi saw.

Kemudian setelah itu pasukan kaum Muslim bangkit kembali dari kekalahan mereka. Tapi, pasukan Makkah telah meninggalkan medan pertempuran dan kembali pulang. Dalam perang ini pihak pasukan lawan kehilangan 23 orang anggotanya. Sedangkan pasukan kaum Muslim menderita kerugian yang tidak sedikit dan 70 orang kaum Muslim gugur sebagai syuhadak dalam perang ini. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, pamanda Nabi Saw., termasuk yang gugur dalam perang ini. Sedang Nabi Saw. sendiri mengalami luka-luka, sehingga gigi beliau patah dan wajah beliau berlumuran darah.

Dalam perang ini sendiri, pada mulanya tak seorang Muslimah pun diizinkan ikut berperang. Tapi Nasibah binti Ka‘b bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin Ghanam, seorang perempuan Khazraj, merasa ia harus berada bersama pasukan kaum Muslim. Suaminya, Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr, dan dua putranya, ‘Abdullah dan Habib, ada di sana. ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri Nabi Saw., dan Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah Al-Anshari, memiliki gagasan yang sama dan datang pula membawa kantung air, tak lama selepas kedatangan Nasibah. “Ketika itu, saya melihat ‘A’isyah dan Ummu Sulaim mondar-mandir mengangkut air minum di dalam kantung kulit untuk pasukan kaum Muslim. Keduanya menyingsingkan lengan baju dan saya melihat perhiasan di bagian kaki mereka. Keduanya mengangkut kantung kulit itu di punggung mereka, lalu mereka memberi minum pasukan kaum Muslim yang terluka,” kenang Abu Thalhah Al-Anshari tentang peran kedua perempuan tersebut dalam Perang Uhud tersebut.

Perang di Gunung Uhud tersebut sangat membekas dalam hati Nabi Saw. hingga akhir hayat beliau. Ini karena di Gunung Uhud itu lah beliau berpisah selamanya dengan para sahabat yang amat dihormati dan paling dekat dengan beliau. Demi perjuangan di jalan Allah Swt, mereka meninggalkan sanak kerabat dan handai tolan, rela hidup terpencil sebelum dan selepas hijrah. Tapi, kini, mereka berbaring di peristirahatan terakhir di Uhud, sebagaimana takdir telah menggariskan. Kenangan terhadap mereka begitu kuat dalam benak Nabi Saw. Karena itu, sekembalinya dari berziarah ke kuburan mereka menjelang akhir hayat beliau, beliau berucap di atas mimbar, “Aku kelak akan berdiri di depan kalian sebagai saksi atas kalian. Tempat bertemu yang dijanjikan bagi kalian adalah surga. Dari tempatku berdiri saat ini, aku melihat surga itu.”

Nabi Muhammad, Jabal Tsur dan sarang laba-laba

Gunung tertinggi di kota Mekkah terletak 5 km dari kota Mekkah, gunung Tsur memiliki 3 puncak yang bersambungan dan berdekatan, dipuncak gunung ini terdapat gua yang bernama gua Tsur tempat Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar RA bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy, peristiwa ini terjadi pada tahun 622 M sewaktu Rasulullah akan hijrah menuju Kota Madinah.

H
ari itu, kaum kafir menduga Rasulullah SAW dan ajarannya bakal "habis". Sebagian telah berangkat ke Madinah, tinggal dia dan sabahatnya, Abu Bakar yang tersisa. Keduanya merupakan most wanted saat itu, dan tekad kaum kafir Quraisy hanya satu: membunuhnya.

Jabal Tsur diyakini bakal menjadi ladang pembantaian bersejarah bagi pria yang dianggap mengganggu karena menyebarkan ajaran tauhid itu. Keduanya ditengarai lari ke atas bukit curam itu. Makin mudah bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup atau menghabisinya dengan satu ayunan pedang.

Dengan pertolongan Allah SWT orang kafir yang mengejar Rasulullah terkecoh ketika berada didepan gua mereka menemukan pintu gua dimana Rasulullah bersembunyi ditutupi sarang laba-laba dan burung merpati yang sedang bertelur atas izin Allah SWT. Hingga mereka berfikir tidak mungkin Rasulullah masuk kegua tersebut, sebab jika masuk sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang sedang bertelur pasti akan rusak. Peristiwa ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 40 yang artinya :

“Bila kamu tidak mau menolong Rasul, maka Allah SWT telah menjamin melongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya ‘janganlah engkau berdukacita, karena Allah SWT bersama kita’. Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati kepada (Muhammad) dan membantunya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak olehmu. Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama Allah SWT menduduki tempat teratas, Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


Kaum kafir terkecoh. Tak mungkin keduanya berada di sana, jika laba-laba saja membuat sarang di mulut goa. Rasul dan Abu Bakar pun selamat. Namun, mereka belum cepat-cepat keluar dari goa begitu kaum kafir meninggalkan mereka. Tiga malam mereka habiskan waktu di gua pengap itu.

Abu Bakar berkorban dengan caranya. Saat tubuh letih dan lemah, ia mempersilakan Rasulullah SAW tidur di pangkuannya. Terdengar desis ular keluar dari sebuah lubang. Abu Bakar menghalaunya dengan jari kaki sehingga terpatuk ular berbisa. Tubuh Abu Bakar menggigil karena sengatan bisa. Hingga keringat dingin bercucuran dari dagunya dan menetes di pipi Rasulullah SAW yang tengah terlelap tidur.

Di sinilah, pegorbanan lain dilakukan Asma binti Abu Bakar RA. Dia sembunyi-sembunyi menyelinap ke atas bukit untuk mensuplai makanan dengan risiko diketahui kaum kafir dan dihabisi.

Nabi Muhammad SAW dan Gua Hira (Jabal Nur)


Gua Hira yang terletak di perbukitan Jabal Nur merupakan lokasi pertama Rasulullah SAW dalam memikirkan kondisi kaumnya (Quraisy) yang jahiliyah. Kondisi kaumnya yang suka mabuk-mabukan, berzina, hingga membunuh anak kandung sendiri, membuat Muhammad sedih.
Kondisi kaum Quraisy ketika itu sudah sangat buruk dan sangat memprihatinkan. Mereka telah mempertuhankan berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Berhala-berhala itu dipuja dan disembah. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu karena dianggap sebagai penolong mereka.

Karena itulah, melihat kondisi buruk kaumnya ini, Muhammad bin Abdullah yang terkenal sebagai pria yang jujur (Al-Amin) pergi mengasingkan diri dari kehidupan kaumnya yang nista. Muhammad mencari petunjuk dalam upaya memperbaiki kehidupan kaumnya. Selama tiga tahun berturut-turut pada bulan Ramadhan, Muhammad bertafakur di Gua Hira yang berada di timur laut Kota Makkah, di pinggir jalan menunju Ji’ranah.

Ia menjadi seorang pencari kebenaran sejati (the seeker of truth). Muhammad senantiasa memikirkan keadaan kaumnya yang sudah melupakan ajaran Nabi Ibrahim al-Khalil. Di tempat sempit itulah, Muhammad berkhalwat (mengasingkan diri dari kehidupan duniawi dan mencari hakikat kebenaran). Budaya berkhalwat ini sebenarnya juga menjadi kebiasaan orang-orang Arab. Mereka melakukan hal itu untuk mencari kebenaran dan petunjuk dari yang Mahagaib.

Di suatu malam pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan 13 Agustus 610 Masehi, Malaikat Jibril AS atas perintah Allah SWT turun ke bumi untuk menjumpai seorang manusia yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dan menyampaikan firman Allah kepadanya.
Sementara itu, manusia yang akan dipilih menjadi penghulu dari segala nabi itu sedang terlelap tidur di sebuah gua di pegunungan (Jabal) Nur, sekitar enam kilometer dari Kota Makkah.
Ketika terjaga dari tidurnya, Muhammad kaget karena melihat ada orang lain (Malaikat Jibril) dalam gua.



Malaikat Jibril lalu menepuk pundaknya dan menyuruh dirinya untuk membaca. ”
Iqra’ (bacalah),” kata Jibril. Dengan perasaan takut, Muhammad menjawab, ”Ma ana biqari’ (saya tidak bisa membaca).” Lagi-lagi, Malaikat Jibril memintanya untuk membaca, ”Iqra’.” Muhammad yang ummi (tak pandai membaca dan menulis–Red) ini tetap menjawab, ”Ma ana biqari’ (saya tidak bisa membaca).”

Hingga pada yang ketiga kalinya, Jibril mengajaknya untuk membaca. ”
Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzi ‘allama bil qalam. ‘Allamal insana ma lam ya’lam.”

(Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS Al-Alaq (96): 1-5].

Inilah pembaiatan Muhammad sebagai Rasulullah SAW yang membawa risalah kenabian dan kerasulan untuk mengajak umat manusia menuju cahaya Islam.

Selepas menerima wahyu pertama ini, Rasulullah SAW kemudian pulang ke rumah, menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid RA. Muhammad bergegas meminta istrinya agar memberikan selimut padanya. Kemudian, berceritalah manusia pilihan Allah ini tentang peristiwa yang baru saja dialaminya di Gua Hira.
Tak berlangsung lama, Khadijah mengimani (mempercayai) yang disampaikan suaminya. Sebab, sejak kecil, Muhammad sudah dikenal sebagai seorang pria yang jujur. Karena itu, ia dijuluki dan diberi gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya). Khadijah yakin, suaminya telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul (utusan)-Nya. Muhammad dibaiat untuk membawa umat manusia menuju jalan yang lurus (shiratal mustaqim). Dan, kelima ayat dari surah Al-Alaq itu menjadi akses untuk memperbaiki dunia dari belenggu kebodohan dan kejahiliyahan.