Showing posts with label masjid. Show all posts
Showing posts with label masjid. Show all posts

Friday, May 27, 2011

MASJID NABAWI


Disebut Masjid Nabawi karena Nabi Muhammad SAW. selalu menyebutnya dengan kalimat, "Masjidku", pada setiap kali beliau menerangkan tentang sebuah masjid yang sekarang berada di pusat kota Madinah.

Berziarah ke masjid Nabawi ini adalah masyru' (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasul : "Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa'.


SEJARAH

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelaj Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, yalah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Rasulullah saw. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi saw. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.




Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi saw., sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):

"Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya." (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):

"Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan." (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)

Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):

"Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa." (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Berdasarkan hadis-hadis ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umroh sebagai amal sunah.

MASJID QUBA

Masjid Quba adalah masjid yang punya nilai sejarah, bermula ketika Rosulullah berangkat Hijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah, beliau singgah di Quba, lalu tinggal di sana lebih kurang 4 hari sambil membangun masjid yang kemudian dinamai Masjid Quba.



Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa masjid Quba adalah masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS At-Taubah:108).

Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri.......(At Taubah, 108).

Walaupun Rosulullah sudah membangun masjid Nabawi di pusat kota Madinah dan membina para sahabat di sana, Rosulullah sangat suka sengaja datang ke Masjid Quba untuk sholat di dalamnya. Di dalam riwayat bahwa Rosulullah berangkat ke Masjid Quba dengan menaiki onta dan kadang berjalan kaki pada hari sabtu.

Keutamaan sholat di Masjid Quba sebagaimana disampaikan oleh Rosulullah adalah sebagaimana mendapatkan pahala umroh. Imam Tirmizi meriwayatkan : "Barang siapa yang bersuci dari rumahnya kemudian ia datang ke masjid quba lalu sholat dua rakaat, maka baginya pahala sebagaimaan ganjaran umroh."
Imam Ibnu Majah meriwayatkan : "Barang siapa yang bersuci dari tempat tingagalnya lalu datang ke Masjid Quba lalu sholat di dalamnya sebuah sholat maka ia mendapatkan pahala umroh".
Masjid Quba adalah Masjid yang selalu dikunjungi oleh jamaah haji dan umroh yang datang ke Kota Madinah.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

MENGAPA LANTAI UNTUK THAWAF TIDAK PANAS?

Pendahuluan :
Saat saya pertama kali melakukan thawaf, saya bingung. Panasnya terik matahari jam 12 siang seperti tidak berpengaruh dengan lantai (ubin) Masjidil Haram karena tetap terasa dingin. Saya benar2 dibuat penasaran....


Di masa lalu, pelataran Kabah yang dipakai untuk tawaf tergolong sempit. Hanya 21 meter dari Kabah, karena di meter ke-21, sudah ada bangunan yang melindungi sumur Zamzam. Bertambahnya jamaah membuat bangunan berukuran 88,8 meter persegi itu dibongkar, sehingga pada 1381-1388 dilakukan perluasan tempat tawaf. Mimbar juga dipindahkan. Maqm Ibrahim direnovasi. Kerikil dihilangkan.

Abdullah ibn Zubair adalah orang pertama yang memberi ubin di tempat tawaf. Ubinnya bergaris tengah lima meter. Hingga 1375 Hijriyah, sumbangan marmer terus berdatangan, dengan bentuk oval saling berhadapan. Lantai tawaf itu dibuat dari marmer dingin, sehingga menahan panas matahari.

Untuk membuat dingin Masjidil Haram, disediakan sentral penyejuk udara. Udara disalurkan lewat terowongan yang menghubungkan sentral pendingin dengan satuan pendingin di tiang-tiang masjid.

Di mala lalu, saat tempat tawaf masih sempit dan jamaah masih sedikit, untuk shalat cukup dilakukan di belakang Maqm Ibrahim. Imam dan jamaah berada di situ. Bertambahnya jamaah, membuat shaf melingkari Kabah perlu dipikirkan. Maka, Gubernur Makkah Khalid bin Abdullah al-Qusary (wafat 120 Hijriyah) menata shaf melingkar itu. Dengan shaf melingkar itu, orang yang shalat tetap menghadap dan bisa melihat ke Kabah.

KA'BAH, ARAH SHALAT, DAN MASJID QIBLATAIN

Ka'bah merupakan kiblat sholat umat Islam. Ka'bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama di atas bumi yang digunakan utk menyembah Allah SWT. Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul 'Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh.



Dinding-dinding sisi Ka'bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. terkecuali satu dinding yang diberi nama "Rukun Hajar Aswad".

Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :

- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)
- Sebelah Barat Rukum Syam (Suriah)
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).

Keempat sisi Ka'bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman nabi Ismail, Ka'bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas.

Dalam satu tahun Ka'bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzul Hijjah dan awal bulan Sya'ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.

Mungkin selama ini kita selalu bertanya setiap kali kita melakukan ibadah sekaligus rukun Islam nomor dua yaitu shalat kita selalu menghadap kiblat, atau dalam hal ini Ka'bah. Nah mengapakah sebenarnya harus menghadap Ka'bah?

Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . (QS. Ali Imran : 96).

Konon di zaman Nabi Nuh as, ka’bah ini pernah tenggelam dan runtuh bangunannya hingga datang masa Nabi Ibrahim as bersama anak dan istrinya ke lembah gersang tanpa air yang ternyata disitulah pondasi Ka’bah dan bangunannya pernah berdiri. Lalu Allah swt memerintahkan keduanya untuk mendirikan kembali ka’bah di atas bekas pondasinya dahulu. Dan dijadikan Ka’bah itu sebagai tempat ibadah bapak tiga agama dunia ini.

Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. ). Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27).

Di masa Nabi Muhammad, awalnya perintah shalat itu ke baitul Maqdis di Palestina. Namun Rasulullah saw berusaha untuk tetap shalat menghadap ke Ka’bah. Caranya adalah dengan mengambil posisi di sebelah selatan Ka’bah. Dengan mengahadap ke utara, maka selain menghadap Baitul Maqdis di Palestina, beliau juga tetap menghadap Ka’bah.

Namun ketika beliau dan para shahabat hijrah ke Madinah, maka menghadap ke dua tempat yang berlawanan arah menjadi mustahil. Dan Rasulullah saw sering menengadahkan wajahnya ke langit berharap turunnya wahyu untuk menghadapkan shalat ke Ka’bah. Kejadian ini terjadi sebagai sejarah dari sebuah masjid yg kini bernama Masjid Qiblatain karena di dalamnya terdapat dua arah kiblat, satu ke Baitul Maqdis (kini tidak dipakai) dan lainnya ke arah Masjidil Haram.

Masjid Qiblatain


Hingga turunlah ayat berikut :

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 144).

Jadi di dalam urusan menghadap Ka’bah, umat Islam punya latar belakang sejarah yang panjang. Ka’bah merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di atas bumi untuk dijadikan tempat ibadah manusia pertama. Dan Allah swt telah menetapkan bahwa shalatnya seorang muslim harus menghadap ke Ka’bah sebagai bagian dari aturan baku dalam shalat.

Thursday, May 26, 2011

RAUDHAH dan SHALAT SUNAH

Pendahuluan :
Saat saya umroh dan menginap selama 3 hari di madinah, orang tua saya selalu mengingatkan untuk memperbanyak shalat di masjid nabawi. Hanya beberapa jam saja kami di hotel, makan dan beristirahat, setelah itu kami ke masjid lagi untuk sekedar mengaji ataupun shalat sunah. Di masjid nabawi ada yg di sebut Raudhah, lokasinya di masjid nabawi yg asli (bukan perluasan). Jika dari luar kita melihat ada kubah dan menara hijau maka Raudhah ada diantara keduanya. Kubah hijau dahulunya adalah rumah Rasulullah dan menara hijau adalah mimbar Rasulullah. Kini rumah tersebut adalah Makam dari Rasulullah, khalifah Abu Bakar Ash Siddiq dan khalifah Umar bin Khattab. Alhamdulillah, saya dua kali bisa shalat di Raudhah :)


Raudhah adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang oleh Rasul Shalallahu'alaihi wasallam tetapkan sebagai sebuah taman dari taman-taman surga. Beliau bersabda : "Antara mimbarku dan rumahku adalah raudhah (taman) dari taman-taman surga." (Shahih Bukhari)

Sehingga hampir setiap pengunjung Masjid Nabawi pun ingin mendapatkan kesempatan untuk beribadah di dalamnya. Orang-orang pun berdesakkan ingin beribadah di tempat yang panjangnya hanya sekitar 22 meter dan lebar 15 meter tersebut, sementara masjid Nabawi berukuran 98.000 m2. Akhirnya dengan keadaan seperti itu cukup sulit bagi kita untuk memperoleh kekhusyukan ketika beribadah, butuh usaha yang ekstra keras karena harus bersaing dengan jemaah haji lain.

Shalat di Raudhah hukumnya sunah, sementara menyakiti sesama manusia apalagi sesama muslim hukumnya haram. Jadi, kalau kita ditakdirkan berada si Masjid Nabawi dan menyaksikan orang-orang berjubel berebut bahkan sikut sana sini untuk bisa shalat di Raudhah dan logika kita mengatakan bahwa kalau ikut rebutan itu akan menyakitai orang lain, lebih baik kita tidak ikut berebut. Ingat, menyakiti orang lain itu hukumnya haram sementara shalat di Raudhah itu hukumnya sunah. Jangan sampai demi melakukan yang sunah kita melakukan yang haram.

Shalat apa yang bisa dilakukan di Raudhah? Secara prinsip, shalat apa pun bisa dilakukan. Kita bisa shalat wajib, tahiyyatul masjid, dhuha, istikharah, dll. Pokoknya shalat apa pun bisa dilakukan selama memungkinkan.

Oleh karena itu kita perlu mengetahui tips-tips agar kita bisa memaksimalkan kesempatan beribadah di taman surga tersebut. Berikut detilnya :

  1. Raudhah terletak di masjid Nabawi lama (bukan perluasan) bagian kiri. Samping persis rumah (makam) Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
  2. Masjid Nabawi yang lama (bukan perluasan) buka 24 jam. Sedangkan bagian perluasan masjid tutup setelah jam 23.00 waktu madinah dan dibuka kembali satu jam sebelum adzan subuh (sekitar jam 03.00).
  3. Raudhah memiliki karpet yang berbeda dengan yang lain. Warna karpetnya adalah hijau muda. Sedangkan wilayah non raudhah berwarna merah.
  4. Saat yang paling sepi di Raudhah adalah jam 1 hingga jam 2 malam.
  5. Wanita memiliki jam-jam tertentu untuk ke raudhah. Yaitu setelah shalat subuh hingga jam 10.00. setelah shalat dhuhur hingga jam 14.30. dan setelah shalat isya hingga jam 23.00.
  6. Karena sempitnya wilayah Raudhah, maka pengurus Masjid Nabawi membagi kelompok-kelompok wanita yang akan masuk Raudhah. Biasanya sesama wanita asia (Indonesia, Malaysia, Brunei) dijadikan satu kelompok. Sedangkan wanita arab (yang fisiknya lebih besar) biasanya dibarengkan satu kelompok. Selain itu rentang waktu di raudhah pun dibatasi bagi wanita. Rata-rata 15 menit.
  7. Walaupun berdesakan usahakan untuk tidak melangkahi di depan orang yang sedang shalat. Karena Rasulullah bersabda : "Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah (pembatas, red) dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya." (HR. Muslim)
    Selain shalat sunah, dapat pula beribadah dalam bentuk yang lain, misalnya membaca Al Qur'an, berdzikir, dan berdoa.
  8. Jangan mendzalimi orang lain dengan mendorong, menyikut, merebut tempat shalat, menginjak bahkan berkelahi. Ingatlah, beribadah di Raudhah adalah ibadah sunah, sedangkan mendzalimi orang lain adalah wajib untuk dihindari. Maka secara hukum fikih, sunah dikalahkan oleh yang wajib.
  9. Jangan terlalu lama di Raudhah, berikan kesempatan bagi saudara kita untuk beribadah disana, semoga Allah membalas kebaikan anda tersebut.
  10. Bantulah orang lain yang kesulitan. Misalnya ada orang tua yang sulit untuk berdiri, atau kesulitan berjalan karena berdesak-desakan. Karena bentuk ibadah sangat luas. Menolong orang lain juga termasuk ibadah yang utama.



MASJID BIR ALI


Jaraknya persis sebelas kilometer dari Masjid Nabawi Madinah. Namanya Masjid Bir Ali. Masjid ini terletak di jalan raya menuju Makkah dari Madinah. Karena sebagai tempat mengambil miqat itu juga, Masjid Bir Ali dikenal dengan nama Masjid al Miqat. Ada juga yang menyebutnya Masjid al Ihram. Masjid yang satu ini memiliki bermacam nama.

Masjid al Miqat ini juga dikenal dengan nama Masjid Dzul Hulaifah. Disebut demikian karena itulah nama distrik atau daerah tempat masjid ini berada. Di sebut Bir Ali karena di daerah ini ada sumur milik Imam Ali kw. Beberapa penduduk asli masih mengingat lokasi sumur itu yang konon tak jauh dari masjid. Lokasi masjid ini cukup unik. Jika dillihat dari kejauhan masjid ini seolah berada di lembah. Dari jauh hanya tampak menara tunggalnya saja. Menara itu menyembul dari balik pepohonan yang rimbun di tengah bukit bebatuan.

Masjid ini merupakan miqat makani atau tempat untuk memulai ihram. Di sini seluruh jamaah yang hendak umrah, berganti pakaian ihram, berniat dan shalat dua rakaat sunnah ihram. Arsitektur masjid ini istimewa karena banyak lorong terbuka atau galeri di dalamnya. Di tengah lorong itu ada pepohonan. Di situ jamaah bisa istirahat sejenak dan menyaksikan pemandangan sekitar.

Masjid ini juga cukup luas ditopang areal parkir dan kamar mandi yang banyak. Bagi yang belum sempat mandi ihram, di sini masih dimungkinkan. Masjid ini dibangun lagi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz saat ia menjabat Gubernur Madinah sekitar 87-93 Hijriah. Kemudian keberadaan masjid ini merosot hingga dibangun lagi oleh Zaini Zaiunddin al Istidar pada tahun 861 Hijriah (1456 M). Dinasti Usmaniah (Turki) juga sempat merehab masjid ini pada tahun 1090 HIjriah (1679 M) melalui salah seorang Muslim India.

Pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz, perluasan masjid dilakukan secara besar-besaran. Lahan di sekitar masjid dibongkar untuk mendukung fasilitas masjid seperti lahan parkir dan penunjang lain. Dengan renovasi itu, luas areal Masjid Bir Ali menjadi sekitar 90 ribu meter per segi. Termasuk di dalamnya ruang terbuka di sekitar masjid. Luas bangunan masjid saja 26 ribu meter persegi. Sisanya, 34 ribu meter persegi terdiri dari jalan, areal parkir, pepohonan, serta paviliun.

Lorong-lorong di dalam masjid sendiri memiliki luas enam meter. Di galeri itu ditutup dengan kubah panjang di atas Mihrab dengan tinggi 28 meter. Masjid ini memiliki menara dengan tinggi 64 meter. Menara itulah yang tampak dari kejauhan. Lantai masjid terbuat dari marmer dan batu granit. Pintunya dari kayu dengan ruangan dilengkapi fasilitas pendingin ruangan.

Di masjid ini terdapat 512 toilet dan 566 kamar mandi. Hal itu untuk menunjang jamaah yang belum sempat mandi ihram dari pemondokan. Ada juga kamar mandi dan tempat wudhu khusus bagi perempuan, jamaah cacat fisik, dan juga orang tua. Kamar mandi itu dijaga oleh askar. Di kamar mandi perempuan, penjaganya malah dari Indonesia yang mengenakan jubah hitam.

Areal parkirnya mampu menampung 500 kendaraan kecil dan 80 kendaraan besar. Konon renovasi masjid ini menghabiskan dana 200 juta riyal Saudi.

Masjid Jin dan Masjid Pohon

Masjid Jin



Di Kampung Ma’la, tak jauh dari lokasi pemakaman Siti Khadijah di Makkah, masjid itu berdiri. Saksi bisu dialog antara Rasulullah dengan para jin itu hingga kini masih berdiri tegak di tempatnya. Masjid dengan luas 10 x 20 meter itu memiliki dua lantai dan satu basement. Di atap masjid bagian kubah dihias dengan tulisan kaligrafi Alquran Surat Al Jin ayat 1-9.

Sejumlah riwayat menyebutkan, masjid yang berjarak sekira 1 kilometer dari Masjidilharam tersebut dinamakan Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’at, karena di tempat itulah para jin menyatakan keislamannya dan berjanji setia kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah swt.

Diriwayatkan, pada suatu ketika usai salat Subuh Rasulullah SAW dan sahabat Anas bin Malik membaca Surat Ar-Rahman ayat 1-7. Di antaranya berbunyi,”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Lantunan ayat suci Alquran itu rupanya menarik perhatian rombongan jin yang sedang dalam perjalanan ke Tihamah. Para jin tersebut lantas mendatangi tempat asal suara dan menemukan Rasulullah SAW bersama sahabatnya di sana tengah membaca Alquran.

Para jin yang dalam salah satu riwayat disebutkan berjumlah tujuh, kemudian langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami.”

Setelah itu para jin lantas berdialog dengan Nabi SAW. Mereka lantas menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT. Penegasan keimanan para jin dalam riwayat di atas dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya di Alquran Surat Al-Jin ayat 1-2 yang berbunyi:

“Telah diwahyukan kepadamu bahwa sekumpulan Jin mendengarkan ayat Al-quran. Lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, karena itu kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT kami dengan siapapun juga.”

Melalui kisah ini, Allah swt ingin menegaskan kepada makhluknya bahwa syariat Nabi Muhammad SAW tak hanya berlaku kepada manusia. Tapi juga makhluk lain seperti jin.

“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku (Adz Dzariyat : 56)”


Masjid Pohon



Menurut al-Azraqy (wafat 244 H/858 M), Masjid Syajaroh terletak berhadapan dengan mesjid Jin. Al-Fakihi juga berpendapat serupa. Tetapi dia menambahkan bahwa di sanalah terdapat pohon di mana Nabi Muhammad SAW, memanggilnya lalu pohon tersebut mendatangi Nabi.

Ibnu al-Jauzi (wafat 597 H) mengatakan bahwa terdapat masjid di tanah tinggi Mekkah yang disebut dengan Masjid Syajaroh, yang berhadapan dengan masjid Jin. Dikisahkan bahwa Nabi Saw memanggil sebuah pohon yang terletak di masjid (sekarang), lalu pohon itu pun tercabut dari bumi memenuhi panggilan Nabi hingga berada di depannya. Kemudian, Nabi menyuruhnya kembali. Maka, pohon itu pun kembali (ke tempat asalnya). Demikian pula menurut Ibnu Zhahirah.


Dari riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa mu’jizat Nabi tersebut terjadi di Hujun, di mana pohon tersebut terletak persis di bangunan Masjid Syajaroh sekarang yang berhadapan dengan masjid Jin, sedangkan Nabi saat itu berada di masjid Jin. Dalam riwayat al-Fakihi disebutkan bahwa Jin meminta bukti atau dalil kepada Nabi Saw tentang kebenaran kenabiannya, maka muncullah mu’jizat itu, dan mereka pun masuk Islam serta membai’at Nabi SAW. Masjid Jin ada kaitannya dengan asbabul nuzul Surat Jin.