Showing posts with label shalat. Show all posts
Showing posts with label shalat. Show all posts

Friday, May 27, 2011

MASJID NABAWI


Disebut Masjid Nabawi karena Nabi Muhammad SAW. selalu menyebutnya dengan kalimat, "Masjidku", pada setiap kali beliau menerangkan tentang sebuah masjid yang sekarang berada di pusat kota Madinah.

Berziarah ke masjid Nabawi ini adalah masyru' (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasul : "Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa'.


SEJARAH

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelaj Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, yalah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Rasulullah saw. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi saw. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.




Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi saw., sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):

"Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya." (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):

"Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan." (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)

Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):

"Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa." (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Berdasarkan hadis-hadis ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umroh sebagai amal sunah.

KA'BAH, ARAH SHALAT, DAN MASJID QIBLATAIN

Ka'bah merupakan kiblat sholat umat Islam. Ka'bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama di atas bumi yang digunakan utk menyembah Allah SWT. Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul 'Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh.



Dinding-dinding sisi Ka'bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. terkecuali satu dinding yang diberi nama "Rukun Hajar Aswad".

Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :

- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)
- Sebelah Barat Rukum Syam (Suriah)
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).

Keempat sisi Ka'bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman nabi Ismail, Ka'bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas.

Dalam satu tahun Ka'bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzul Hijjah dan awal bulan Sya'ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.

Mungkin selama ini kita selalu bertanya setiap kali kita melakukan ibadah sekaligus rukun Islam nomor dua yaitu shalat kita selalu menghadap kiblat, atau dalam hal ini Ka'bah. Nah mengapakah sebenarnya harus menghadap Ka'bah?

Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . (QS. Ali Imran : 96).

Konon di zaman Nabi Nuh as, ka’bah ini pernah tenggelam dan runtuh bangunannya hingga datang masa Nabi Ibrahim as bersama anak dan istrinya ke lembah gersang tanpa air yang ternyata disitulah pondasi Ka’bah dan bangunannya pernah berdiri. Lalu Allah swt memerintahkan keduanya untuk mendirikan kembali ka’bah di atas bekas pondasinya dahulu. Dan dijadikan Ka’bah itu sebagai tempat ibadah bapak tiga agama dunia ini.

Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. ). Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27).

Di masa Nabi Muhammad, awalnya perintah shalat itu ke baitul Maqdis di Palestina. Namun Rasulullah saw berusaha untuk tetap shalat menghadap ke Ka’bah. Caranya adalah dengan mengambil posisi di sebelah selatan Ka’bah. Dengan mengahadap ke utara, maka selain menghadap Baitul Maqdis di Palestina, beliau juga tetap menghadap Ka’bah.

Namun ketika beliau dan para shahabat hijrah ke Madinah, maka menghadap ke dua tempat yang berlawanan arah menjadi mustahil. Dan Rasulullah saw sering menengadahkan wajahnya ke langit berharap turunnya wahyu untuk menghadapkan shalat ke Ka’bah. Kejadian ini terjadi sebagai sejarah dari sebuah masjid yg kini bernama Masjid Qiblatain karena di dalamnya terdapat dua arah kiblat, satu ke Baitul Maqdis (kini tidak dipakai) dan lainnya ke arah Masjidil Haram.

Masjid Qiblatain


Hingga turunlah ayat berikut :

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 144).

Jadi di dalam urusan menghadap Ka’bah, umat Islam punya latar belakang sejarah yang panjang. Ka’bah merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di atas bumi untuk dijadikan tempat ibadah manusia pertama. Dan Allah swt telah menetapkan bahwa shalatnya seorang muslim harus menghadap ke Ka’bah sebagai bagian dari aturan baku dalam shalat.

Thursday, May 26, 2011

RAUDHAH dan SHALAT SUNAH

Pendahuluan :
Saat saya umroh dan menginap selama 3 hari di madinah, orang tua saya selalu mengingatkan untuk memperbanyak shalat di masjid nabawi. Hanya beberapa jam saja kami di hotel, makan dan beristirahat, setelah itu kami ke masjid lagi untuk sekedar mengaji ataupun shalat sunah. Di masjid nabawi ada yg di sebut Raudhah, lokasinya di masjid nabawi yg asli (bukan perluasan). Jika dari luar kita melihat ada kubah dan menara hijau maka Raudhah ada diantara keduanya. Kubah hijau dahulunya adalah rumah Rasulullah dan menara hijau adalah mimbar Rasulullah. Kini rumah tersebut adalah Makam dari Rasulullah, khalifah Abu Bakar Ash Siddiq dan khalifah Umar bin Khattab. Alhamdulillah, saya dua kali bisa shalat di Raudhah :)


Raudhah adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang oleh Rasul Shalallahu'alaihi wasallam tetapkan sebagai sebuah taman dari taman-taman surga. Beliau bersabda : "Antara mimbarku dan rumahku adalah raudhah (taman) dari taman-taman surga." (Shahih Bukhari)

Sehingga hampir setiap pengunjung Masjid Nabawi pun ingin mendapatkan kesempatan untuk beribadah di dalamnya. Orang-orang pun berdesakkan ingin beribadah di tempat yang panjangnya hanya sekitar 22 meter dan lebar 15 meter tersebut, sementara masjid Nabawi berukuran 98.000 m2. Akhirnya dengan keadaan seperti itu cukup sulit bagi kita untuk memperoleh kekhusyukan ketika beribadah, butuh usaha yang ekstra keras karena harus bersaing dengan jemaah haji lain.

Shalat di Raudhah hukumnya sunah, sementara menyakiti sesama manusia apalagi sesama muslim hukumnya haram. Jadi, kalau kita ditakdirkan berada si Masjid Nabawi dan menyaksikan orang-orang berjubel berebut bahkan sikut sana sini untuk bisa shalat di Raudhah dan logika kita mengatakan bahwa kalau ikut rebutan itu akan menyakitai orang lain, lebih baik kita tidak ikut berebut. Ingat, menyakiti orang lain itu hukumnya haram sementara shalat di Raudhah itu hukumnya sunah. Jangan sampai demi melakukan yang sunah kita melakukan yang haram.

Shalat apa yang bisa dilakukan di Raudhah? Secara prinsip, shalat apa pun bisa dilakukan. Kita bisa shalat wajib, tahiyyatul masjid, dhuha, istikharah, dll. Pokoknya shalat apa pun bisa dilakukan selama memungkinkan.

Oleh karena itu kita perlu mengetahui tips-tips agar kita bisa memaksimalkan kesempatan beribadah di taman surga tersebut. Berikut detilnya :

  1. Raudhah terletak di masjid Nabawi lama (bukan perluasan) bagian kiri. Samping persis rumah (makam) Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
  2. Masjid Nabawi yang lama (bukan perluasan) buka 24 jam. Sedangkan bagian perluasan masjid tutup setelah jam 23.00 waktu madinah dan dibuka kembali satu jam sebelum adzan subuh (sekitar jam 03.00).
  3. Raudhah memiliki karpet yang berbeda dengan yang lain. Warna karpetnya adalah hijau muda. Sedangkan wilayah non raudhah berwarna merah.
  4. Saat yang paling sepi di Raudhah adalah jam 1 hingga jam 2 malam.
  5. Wanita memiliki jam-jam tertentu untuk ke raudhah. Yaitu setelah shalat subuh hingga jam 10.00. setelah shalat dhuhur hingga jam 14.30. dan setelah shalat isya hingga jam 23.00.
  6. Karena sempitnya wilayah Raudhah, maka pengurus Masjid Nabawi membagi kelompok-kelompok wanita yang akan masuk Raudhah. Biasanya sesama wanita asia (Indonesia, Malaysia, Brunei) dijadikan satu kelompok. Sedangkan wanita arab (yang fisiknya lebih besar) biasanya dibarengkan satu kelompok. Selain itu rentang waktu di raudhah pun dibatasi bagi wanita. Rata-rata 15 menit.
  7. Walaupun berdesakan usahakan untuk tidak melangkahi di depan orang yang sedang shalat. Karena Rasulullah bersabda : "Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah (pembatas, red) dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya." (HR. Muslim)
    Selain shalat sunah, dapat pula beribadah dalam bentuk yang lain, misalnya membaca Al Qur'an, berdzikir, dan berdoa.
  8. Jangan mendzalimi orang lain dengan mendorong, menyikut, merebut tempat shalat, menginjak bahkan berkelahi. Ingatlah, beribadah di Raudhah adalah ibadah sunah, sedangkan mendzalimi orang lain adalah wajib untuk dihindari. Maka secara hukum fikih, sunah dikalahkan oleh yang wajib.
  9. Jangan terlalu lama di Raudhah, berikan kesempatan bagi saudara kita untuk beribadah disana, semoga Allah membalas kebaikan anda tersebut.
  10. Bantulah orang lain yang kesulitan. Misalnya ada orang tua yang sulit untuk berdiri, atau kesulitan berjalan karena berdesak-desakan. Karena bentuk ibadah sangat luas. Menolong orang lain juga termasuk ibadah yang utama.